Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) akan mendapatkan anggaran Rp4.9 Triliun pada rancangan APBN 2021, dalam upaya untuk pemulihan pariwisata yang terpuruk akibat Covid-19.

Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia sudah menyepakati pagu anggaran untuk Kemenparekraf sebesar angka tersebut.

Jumlah ini mengalami kenaikan 19,4 persen atau Rp795.710.814.000 dari pagu indikatif (ancar-ancar pagu anggaran) TA 2021 sebesar Rp 4.111.437.568.000.

Wishnutama menjelaskan Kemenparekraf memiliki tiga program strategis dalam penggunaan APBN 2021.

Ketiganya yakni percepatan pemulihan pariwisata, pariwisata berkualitas, dan ekonomi kreatif, serta digitalisasi dan kedaulatan digital. Ketiga program strategis tersebut akan diimplementasikan di tiap level kedeputian.

Menparekraf juga menyampaikan kembali strategi Kemenparekraf yang telah dan akan dijalankan dalam upaya pemulihan pariwisata dan ekonomi kreatif akibat pandemi Covid-19.

Sesuai dengan arahan Presiden Jokowi, mitigasi dampak pandemi Covid-19 bertujuan untuk membangun ketahanan dan menyelamatkan perekonomian, yang dilaksanakan melalui tiga program utama. Yaitu program perlindungan sosial, program padat karya, juga program stimulus.

Wishnutama menjelaskan, terlepas dari upaya yang sudah dilakukan, pihaknya juga melihat perlu adanya usaha ekstra agar industri sektor pariwisata dan ekonomi kreatif segera pulih. Usaha ekstra ini diperlukan karena ada beberapa isu yang menghambat pemulihan, di antara sekian isu tersebut ada dua isu yang dominan.

Isu yang pertama adalah “Fear Factor” yang menurut data dari McKinsey, masyarakat Indonesia mayoritas khawatir tentang penggunaan layanan transportasi umum, bepergian menggunakan pesawat, dan menginap di hotel. Tiga kategori kegiatan oleh McKinsey tersebut sangat terkait dengan sektor pariwisata.

Isu yang dominan kedua adalah soal daya beli. Menurut data dari McKinsey, terlihat 3/4 dari konsumen mengalami penurunan pendapatan dan penurunan nominal tabungan. Dari data ini bisa disimpulkan bahwa secara logika masyarakat hanya akan mengeluarkan uang untuk kebutuhan pokok karena pendapatan yang menurun.

“Pengeluaran untuk berwisata akan menjadi hal yang sekunder bagi kebanyakan orang. Ini tentu menjadi tantangan bagi kami untuk membangkitkan industri pariwisata pasca pandemi, dan membantu industri pariwisata bertahan di tengah pandemi,” kata Wishnutama.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *